Senin, 14 Juli 2014

prinsip dan faktor yang mempengaruhi belajar



A.    PENDAHULUAN.
Masalah belajar merupakan masalah yang selalu aktual dan dihadapi oleh setiap orang. Oleh sebab itu, banyak ahli-ahli yang membahas serta menghasilkan berbagai teori tentang belajar. Dalam hal ini, teori yang dihasilkan tidaklah dipertentangkan dengan kebenaran, tetapi hal yang lebih penting adalah pemakaian teori-teori tersebut dalam kehidupan yang dirasa paling cocok dengan kebudayaan kita.
Tidak bisa disangkal bahwa dalam belajar seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga bagi pelajar sendiri adalah sesuatu yang penting untuk mengetahui faktor-faktor yang dimaksud. Hal ini lebih penting lagi tidak hanya bagi pelajar tetapi juga bagi calon-calon pendidik seperti kita.
Maka dari pada itu, kami menyusun makalah ini guna membahas secara lebih mendalam bagaimana prinsip-prinsip belajar, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar serta metode belajar yang jamak digunakan.
B.     Rumusan Masalah.
1.        Bagaimana prinsip-prinsip aktivitas belajar?
2.        Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi belajar?
3.        Bagaimana metode belajar yang jamak digunakan?
C.     PEMBAHASAN.
1.      Prinsip-prinsip  belajar.
Sebagai seorang siswa, untuk mencapai tujuan dari belajar perlu mengetahui prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip tersebut digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan ataupun hasil belajar. Sebenarnya prinsip-prinsip dalam belajar itu bersifat fleksibel, artinya prinsip belajar dapat dilakukan dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Namun demikian kita dapat menyusun prinsip-prinsip belajar tersebut sebagai berikut:
a.       Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar.
1)      Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan berperan aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan yang dicanangkan.
2)      Belajar harus dapatmenimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan yang dicanangkan.
3)      Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
4)      Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungan.
b.      Sesuai hakikat belajar.
1)      Belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap sesuai dengan perkembangannya.
2)      Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi, dan discovery.
3)      Belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan respon yang diharapkan.
c.       Sesuai materi yang harus dipelajari.
1)      Belajar bersifat keseluruhan dan materi ini harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mampu menangkap pangertiaanya.
2)      Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan yang harus dicapai.
d.      Syarat keberhasilan belajar
1)      Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
2)      Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/keterampilan/sikap itu mendalam pada siswa.[1]
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
Belajar yang merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku seseorang, ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor, secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor ekstern (dari luar) diri seseorang dan  faktor intern (dari dalam) diri seseorang.[2]
a.       Faktor-faktor  ekstern
1)      Faktor lingkungan
a)      Lingkungan alami, yaitu  tempat tinggal anak didik hidup dan berusaha didalamnya, tidak boleh ada pencemaran lingkungan.
b)      Lingkungan sosial budaya, yaitu hubungan dengan manusia sebagai makhluk sosial.
2)      Faktor instrumental
Yaitu seperangkat kelengkapan dalam bergbagai bentuk untuk mencapai tujuan, yang meliputi:
a)      Kurikulum
b)      Sarana dan prasarana
c)      Guru
d)     Program[3]
a.       Faktor-faktor intern
1)      Kondisi fisiologis
a)      Kesehatan jasmani
b)      Gizi cukup tinggi
c)      Kondisi panca indra (mata, hidung telinga, pengecap dan tubuh)
2)      Kondisi psikologis
Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis, oleh karena itu semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja memiliki pengaruh belajar seseorang.
Thomas F. Staton menguraikan enam macam faktor psikologis, yaitu:
a)      Motivasi
Seseorang akan berhasil dalam belajar apabila ada keinginan dalam dirinya utuk belajar.  Keinginan atau dorongan inilah yang disebut sebagai motivasi. Motvasi dalam hal ini ada dua hal, yakni: (1) mengetahui apa yang akan dipelajari,: dan (2) mengapa hal tersebut patut dipelajari.[4] Dengan berpijak pada dua hal ini sebagai  dasar permulaan seseorang untuk belajar. Akan menjadi hal yang sulit apabila seseorang tidak memiliki motivasi untuk belajar.
b)      Konsentrasi
Konsentrasi merupakan memusatkan segenap  kemampuan dalam melakukan kegiatan, dalam hal ini belajar. Didalam belajar, mungkin juga adaperhatian sekedarnya, tetapi tidak konsentrasi, maka materi yang masuk dalam pikiran mempunyai kecenderungan berkesan, akan tetapi samar-samar di dalam kesadaran. Kesan itu mungkin juga jelas bagi seseorang untuk memahami secara umum apa yang telah dilihat ataupun didengarkannya, namun tidak cukup kuat untuk membuat kesan yang hidup dan tahan lama.
c)      Reaksi
reaksi merupakan suatu bentuk respon ataupun tanggapan yang melibatkan unsur fisik maupun mental terhadap sesuatu. Dalam belajar  diperlukan keterlibatan unsur fisik maupun mental sebagai wujud reaksi. Pikiran dan otot harus bekerja secara harmonis, sehingga subjek belajar itu bertindak dan malakukannya. Belajar harus aktif,  tidak sekedar apa adanya, menyerah pada lingkungan, tetapi semua itu harus dipandang sebagai suatu tantangan yang memerlukan reaksi. Jadi orang belajar itu harus aktif, dan bertindak dengan mengoptimalkan semua panca indra eserta tubuh.
d)     Organisasi
Belajar dapat pula diartikan sebagai kegiatan mengorganisasikan, menata, atau menempatkan bagian-bagian bahan pelajaran menjadi satu-kesatuan pengertian.[5] Perbedaan belajar yang berhasil dan kebingunngan sering kali hanyalah perbedaan antara cara penerimaan dan pengaturan fakta-fakta dan ide-ide dalam fikiran siswa yang belajar. Untuk membantu siswa agar cepat dapat mengorganisasikan fakta-fakta dalam pikirannya, maka diperlukan perumusa tujuan yang jelas dalam belajar.
e)      Pemahaman
Pemahaman dapat diartikan dengan menguasai dengan pikiran. Karena itu belajar harus mengerti secara mental makna dan filisofinya, maksud dan implikasi serta aplikasi-aplikasinya, sehingga siswa dapat memahami situasi.[6]
Perlu diingat bahwa pemahaman ini tidak hanya sebatas tahu, akan tetapi juga menuntut siswa untuk memanfaatkan bahan-bahan yang telah dipahami. Jika sudah demikian, belajar akan bersifat mendasar.
f)       Ulangan
Lupa merupakan sesuatu yang tercela dalam belajar.  Namun lupa merupakan sifat umum yang dimiliki manusia. Biasanya sehari setelah siswa melakukan pembelajaran di sekolah, mereka banyak melupakan apa yang telah mereka peroleh selama jam pelajaran tersebut. Sehubungan dengan kenyataan itu, untuk mengatasi kelupaan, maka diperlukan ulangan. Namun dalam melakukan kegiatan pengulanganharus disertai dengan pikiran dan bertujuan.
3.      Metode Belajar
Dalam kamus besar bahasa indonesia (1995: 652) menyatakan metode sebagai “cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya)”, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan sesuatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[7]
Adapun metode belajar yang jamak digunakan adalah sebagai berikut:
a.       Metode SQ3R.
SQ3R pada prinsipnya merupakan singkatan langkah-langkah mempelajari teks yang meliputi:
1)      Survey, maksudnya memeriksa atau meneliti atau mengidentifikasi selurh teks.
2)      Question, yakni menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks.
3)      Read, maksudnya membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun.
4)      Recite, maksudnya menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan.
5)      Review, maksudnya meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun pada langkah kedua dan ketiga.
b.      Metode PQRST.
Metode ini dibuat oleh Thomas F. Staton dalam bukunya How To Study (1952). Adapun langkah-langkah metode ini adalah:
1)      Preview (menyelidiki)
Preview adalah suatu langkah atau tahapan sebelum seorang membaca buku. Penyelidikan ini bisa dilakukan dengan membaca kalimat-kalimat awal atau kalimat pokok pada permulaan atau akhir suatu paragraf, ataupun ringkasan pada akhir suatu bab.
2)      Question
Seperti pada SQ3R, langkah yang pertama adalah membaca. Apabila pada akhir suatu bab ada daftar pertanyaan yang dibuat oleh pengaran buku, sebaiknya bagian itu dibaca terlebih dahulu.
3)      Readl (membaca)
Disini juga dianjurkan membaca secara aktif, yakni pikiran seseorang harus memberikan respon terhadap apa yang dibacanya.
4)       State (menyatakan)
Langkah selanjutnya adalah menyatakan sendiri apa saja yang telah dibacanya.
5)      Test (menguji)
Yakni dengan menguji pikiran apakah masih ingat apa yang dibacanya.
c.       Metode Quantum Learning
Quantum learning berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya “suggestology” atau “suggestopedia”. Prinsipnya sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negatif.[8]
Pada dasarnya, quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolongistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang cara otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku, dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara guru dan siswa. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui cara menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif-faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang, dan menciptakan pegangan dari saat-saat keberhasilan yang meyakinkan.


D.    SIMPULAN
Dari makalah yang kami susun dapat disimpulkan bahwa:
                        Prinsip-prinsip belajar
a.       Syarat keberhasilan belajar
b.      Sesuai materi yang harus dipelajari
c.       Sesuai hakikat belajar.
d.      Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
a.       Faktor-faktor  ekstern
1)      Faktor lingkungan
2)      Faktor instrumental
b.      Faktor-faktor intern
1)      Kondisi fisiologis
2)      Kondisi psikologis
Metode belajar
a.       Metode SQ3R.
b.      Metode PQRST.
c.       Metode Quantum Learning





DAFTAR PUSTAKA
Rohmah, Nour. 2012. Psikologi Pembelajaran. Yogyakarta: Teras
Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta
Sardiman. 2010. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada



[1] Slameto, Belajar &Faktor-faktor yang Mempengaruhi,(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), hlm. 27-28
[2] Sadirman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010 ), hlm 39
[3] Noer Rohmah,Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 195-196
[4] Sadirman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010 ), hlm 40

[5] Sadirman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010 ), hlm 42
[6] Sadirman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010 ), hlm 42-43
[7] Noer Rohmah,Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 200

[8]  Noer Rohmah,Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 203

Tidak ada komentar: